Thursday, October 20, 2022

TERUNTUK NENEK KAMI TERSAYANG, BAHAGIALAH ENGKAU DI SYURGA-NYA
Oleh : @diiana.rembulan_11

Telah lama kita tidak bersua, sudah tujuh tahun lamanya setelah engkau meninggalkan dunia. Kepergianmu menyisakan kesedihan nan teramat dalam bagi kami keluarga tercintamu yang ditinggalkan. Saat ini bagaimana kabar nenek di sana? Apakah nenek baik-baik saja di sana? Aku harap, saat aku menuliskan tulisan ini, nenek sedang tersenyum sembari ditemani oleh malaikat syurga.

Nek, masih ingatkah dahulu di kala nenek gemar menjahitkan bajuku? Yah, baju yang nenek  jahit sendiri. Hingga nenek rela terjaga dan tertidur pulas demi menjahitkan baju untukku. Bahkan nenek juga selalu mengajarkanku untuk menjahit. Masih ingatkah dahulu, ketika aku pulang sekolah engkau selalu menyiapkan makan siang untukku sebagai bentuk kasih sayangmu. Aku rindu dengan usapan tangan nenek yang selalu membelai lembut kepalaku. Rindu dengan candaan ringan yang selalu nenek lontarkan di momen-momen bahagiaku. Bahkan, aku rindu saat nenek memberiku nasihat yang begitu menyentuh. Pun, aku rindu dengan dongeng singkat nenek sebelum aku tertidur pulas perihal 'Zaman Indonesia Di Masa Penjajahan Belanda dan Jepang'. Ahhh ... andai nenek masih ada di sini, kita pasti masih saling bertukar cerita.

Tahukah engkau, wahai wahai nenek kami tercinta? Semenjak kepergianmu ada banyak hal yang terjadi di dunia ini dalam kehidupan kami dan kehidupanku yang kini sudah mulai beranjak dewasa. Lihatlah, cucu kecilmu nan lugu kini sudah menjadi wanita dewasa. Aku kini sedang menjalani studiku dan aku berharap bisa menyelesaikannya dengan tepat waktu agar dapat mewujudkan cita-citamu nenek. Dan kini, sungguh, aku ingin nenek masih ada di sini menjadi saksi dan melihat langsung wisudaku nanti, serta menjadi saksi pertumbuhan dan perjalanan hidupku hingga aku tumbuh menjadi sosok wanita yang tangguh dan dewasa.

         ***

Hari itu akhirnya tiba. Hari di mana kesehatan nenek mulai menurun dan hanya bisa berbaring lemas di atas pembaringan. Aku selalu mengutuki diri dan hari itu. Aku tidak pernah berharap hari itu benar-benar terjadi di hidupku. Yah, hari di mana kesehatan nenek mulai menurun. Aku semakin jelas melihat adanya jejak guratan tua di wajahnya. Engkau yang tak lagi nampak muda dan tak lagi bisa menyiapkan hidangan spesial untukku. Nenek lebih banyak terbaring lemah di atas pembaringan.

Maafkan aku, Nenek. Ketika dulu engkau menyuruhku, terkadang masih sering kuabaikan. Bahkan pada saat-saat terakhirmu pun aku dan keluargamu yang lain tidak mengetahui engkau telah pergi. 

"Maafkan kami, Nenek! Pada saat terakhirmu kami belum bisa berada di sampingmu.", gumamku ketika aku selalu diingatkan kenangan tentang nenek

Sungguh, waktu itu kami benar-benar sedang tertidur pulas hingga keesokan harinya kami baru mengetahui bahwa engkau telah tiada. Maafkan cucumu yang terkadang masih sering mengabaikanmu. Sebab, dahulu ketika aku remaja, aku masih belum mengerti betapa sakitnya diabaikan. Kini kami mulai menyadari bahwa kami tidak benar-benar memanfaatkan waktu pertemuan kita di dunia dengan sebaik-baiknya. Kami membuang waktu yang begitu sangat berhargademi dunia kami sendiri. "Maafkan kami, Nenek."

Sekarang hanya tinggal rasa sedih dan penyesalan yang masih tersisa. Sampai detik ini pun, aku terkadang masih menyesali diri sendiri. Mengapa dahulu aku tidak selalu berada di sampingmu? Mengapa aku lebih memilih mengabaikan daripada menemani? Yah, mungkin rasa sesallah yang kini selalu menjadi alarm penanda bahwa aku tidak boleh lagi mengabaikan orang-orang yang selalu menyayangiku di dalam hidupku.

Nenek, tahukah engkau bahwa sekarang aku selalu merasa cemburu ketika ada kawanku yang masih memiliki sosok seorang nenek. Yah, aku cemburu pada mereka yang masih dekat dan bisa merawat neneknya. Sedangkan mengapa nenekku dipanggil lebih dahulu? Melihat kedekatan mereka dengan neneknya membuatku rindu dengan kenangan yang kita lalui bersama. Kenangan saat kita saling bertukar cerita atau saat nenek selalu menuruti segala keinginanku dengan selalu menyiapkan menu spesial untukku. Kenangan ketika nenek bercerita perihal kehidupan kepada kami, daaaan ... aaahh ... kenangan bersama nenek tidak akan pernah ada habisnya jika kutuliskan semua di sini.

              ***

Namun, asal nenek tahu kenangan manis bersama nenek akan selalu tersimpan rapi di benakku. Di dalam hati kami, juga dalam catatan kecil yang selalu kusebut sebagai 'diary'. Dan bila suatu esok nanti waktuku telah tiba untuk benar-benar berperan sebagai seorang nenek, aku akan mencontoh sifatmu persis seperti yang pernah engkau ajarkan padaku. Yah, aku banyak belajar dari nenek. Belajar betapa berartinya dalam menghargai, menerima dan mencintai dengan tulus.

Nenek, maafkan aku. Aku belum sempat mengatakan perasaanku padamu bahwa, "Aku mengagumi dan sangat menyayangi sosokmu."

Yah,  rasa ini belum terlalu jelas kurasakan saat usiaku masih remaja. Namun, kini aku tahu benar bahwa nenek sudah berjasa memberikan masa remaja nan membahagiakan serta kehidupan yang sangat berarti untuk kami anak-anakmu, cucu-cucumu yang lain, jua kerabat terdekatmu. Kami sungguh sayang nenek. Kami berharap semoga kami bisa dipertemukan kembali kelak di syurga-Nya.

     *** selesai ***

Cirebon, 10 Oktober 2022

Dari kami,
Anak, menantu, cucu, uyut, dan kerabat terdekatmu yang sudah sangat merindukanmu.
✍🏻: cucumu, Diana Pita

MENGENANG 7 TAHUN WAFATNYA ALMARHUMAH IBU KURNIAH BINTI BAPAK ABDULLAH
10 Oktober 2015 - 10 Oktober 2022
Lahumul Fatihah ...

Thursday, December 23, 2021

 

KASIH IBU SETULUS LILIN

Oleh : Diana Pita


Seperti bening embun menitiskan kasih

Pada kuntum 'puspa' nan menyerikan taman

Bakal semarai kelopak segar terali pagar

Ialah beliau, Sang Ibu yang merawat dan menjagaku sedari kecil


Seperti tulusnya lilin yang menyala

Rela terbakar hingga leleh ke punca

Peluh menguras raga, keluh tak dirasa

Demi cita, jua demi cinta pada 'sang buah hati'


Tiada mutiara yang lebih kemilau

Daripada butiran air mata yang menetes di pipinya

Walau selut intan, segunung berlian

Kasih sayangnya tak akan mampu tertandingi


Karena di dalamnya bersemayam 'cinta'

Di bawah telapak kakinya ada 'surga' nan selalu kurindukan

Untukku dan untukmu mengalir selalu kasih sayangnya


Cirebon, 22 Desember 2021


~ @RK_11 ~

Monday, November 1, 2021

 

  Oleh : Wawat Qomariyah, S.Pd

KAIDAH KEPENULISAN MENGENAI KATA HUBUNG (KONJUNGSI)

A. Pengertian

    Konjungsi (kata penghubung) adalah kata tugas yang fungsinya menghubungkan antarklausa, antarkalimat, dan antarparagraf. Kata penghubung antarklausa biasanya terletak di tengah-tengah kalimat, sedangkan kata penghubung antarkalimat di awal kalimat (setelah tanda titik, tanda tanya, dan tanda seru), adapun kata penghubung antar paragraf letaknya di awal paragraf. Namun, sebelum mengulas seputar kata sambung, kita harus paham terlebih dahulu tentang apa itu kata, klausa dan kalimat. Keduanya berkaitan erat dengan kata sambung.

Kata

Menurut KBBI, kata adalah unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa. Dalam sebuah kalimat, kata merupakan salah satu unsur terkecil.

Kata terbentuk dari beberapa huruf yang terangkai untuk menciptakan makna tertentu. Contoh dari kata sederhana yang sering kita gunakan adalah tidur, bekerja, belajar, dan masih banyak lagi.

Klausa

Terkadang kita sulit untuk membedakan klausa dan kalimat. Namun, bila kita telah memahami makna dan fungsinya, kita dapat membedakan keduanya dengan mudah. Klausa merupakan satuan gramatikal yang berupa kelompok dari kata, terdiri atas sekurang-kurangnya subjek dan predikat yang akan berpotensi menjadi kalimat. Klausa yangs sering kita temui dalam kehidupan sehari – hari contohnya Nenek sedang makan.

Dalam klausa tersebut terdiri dari satu subjek (nenek) dan satu predikat atau kata kerja (sedang makan). Dalam susunannya, klausa lebih pendek atau singkat dibandingkan kalimat. Dalam sebuah klausa hanya terdiri dari subjek dan predikat.

Kalimat

Berdasarkan KBBI, kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara aktual maupun potensial terdiri atas klausa. Klausal lebih sederhana dan tidak sekomplek kalimat.

Kalimat terdiri dari subyek, predikat, obyek, dan keterangan (baik keterangan tempat, waktu dan sebagainya).

B. Fungsi Konjungsi

Fungsi konjungsi menghubungkan:

1. Kata dengan kata.

2. Frasa dengan frasa.

3. Klausa dengan klausa.

4. Kalimat dengan kalimat.

5. Paragraf dengan paragraf (konjungsi antarparagraf dinamakan transisi).

C. Macam-Macam Konjungsi Secara Umum

Secara umum, macam konjungsi dibagi menjadi dua yaitu konjungsi antarkalimat dan konjungsi intrakalimat.

1️⃣ Konjungsi Intra Kalimat (Antar Klausa)

Konjungsi intrakalimat adalah jenis konjungsi yang menghubungkan antara klausa induk dan klausa anak. Penggunaan konjungsi ini terletak di bagian tengah kalimat. 

Konjungsi intrakalimat adalah kata yang menyambungkan klausa dengan klausa, frasa dengan frasa dan satuan kata dengan kata. Konjungsi intrakalimat terbagi menjadi dua yaitu konjungsi koordinatif dan konjungsi subordinatif, yang akan dijelaskan di bawah ini.

Jenis konjungsi intra kalimat digolongkan menjadi tiga, yaitu konjungsi koordinatif, subordinatif, dan korelatif .

 📌Konjungsi Koordinatif

    Konjungsi koordinatif merupakan konjungsi yang menghubungkan dua klausa atau lebih yang memilki kedudukan sederajat/ setara.  Diantaranya yaitu : padahal, lalu, kemudian, sedangkan, melainkan, atau, dan, tetapi.

Contoh konjungsi koordinatif:

Aldi sibuk bermain game, padahal ia harus mengerjakan PR.

📌 Konjungsi Subordinatif

    Konjungsi subordinatif merupakan konjungsi yang menghubungkan dua klausa atau lebih yang tidak sama derajatnya. Beberapa contoh konjungsi subordinatif antara lain agar, untuk, supaya, sebab, karena, seperti, seakan-akan, jika, sejak, ketika, andaikan, walaupun, bahwa, dll.

Contoh konjungsi subordinatif:

Nisa tetap pergi walaupun masih hujan deras.

📌 Konjungsi Korelatif

    Konjungsi korelatif merupakan konjungsi yang menghubungkan dua kata yang setara, baik kata, frasa, klausa, ataupun kalimat.

Konjungsi jenis ini sama halnya dengan konjungsi koordinatif, bedanya kata penghubung pada konjungsi ini terdiri atas beberapa gabungan kata, sedangkan konjungsi koordinatif hanya terdiri dari satu kata saja.

Jika saja beberapa kalimat tidak dihubungkan dengan kata hubung, maka kalimat tersebut menjadi ambigu dan rancu, sehingga sulit dimengerti.

Kalimat yang menggunakan penghubung korelatif disebut kalimat korelatif. 

Contoh : demikian-sehingga, baik-maupun, tidak hanya-tetapi juga, tidak hanya-bahkan, bukannya-melainkan, jangankan-melainkan, sedemikian rupa-sehingga, entah-entah. 

Contoh konjungsi korelatif:

Tidak hanya cuci muka, bahkan kami menyempatkan untuk mandi dan berenang di pemandian air hangat itu sehingga badan kita sehat.

2️⃣ Konjungsi Antar Kalimat

    Konjungsi antar kalimat adalah jenis konjungsi yang menghubungkan kalimat satu dengan kalimat lainnya. Biasanya konjungsi ini dipakai untuk menunjukan adanya perbedaan arti atau perbedaan makna. Dalam penggunaannya konjungsi antarkalimat diletakkan pada bagian awal kalimat. Namun di beberapa kasus bisa juga yang diletakkan setelah tanda titik, tanda tanya, dan tanda seru.

Pembagian jenis-jenis konjungsi antarkalimat ini berdasarkan fungsinya. Diantaranya adalah sebagai berikut.

📌Konjungsi pertentangan, misalnya: bagaimanapun, biarpun, walaupun demikian.

📌Konjungsi yang menyatakan lanjutan, misalnya: sesudah itu, setelah itu.

📌Konjungsi yang menyatakan kejadian sebelumnya. misalnya: sebelum itu

📌Konjungsi yang menyatakan akibat, misalnya: oleh karena itu, oleh sebab itu.

📌Konjungsi yang menyatakan kebalikan dari pernyataan sebelumnya, misalnya: sebaliknya

📌Konjungsi yang menyatakan keadaan sebenarnya, misalnya: sesungguhnya, bahwasanya.

📌Konjungsi yang menyatakan konsekuensi misalnya: dengan demikian.

📌Konjungsi yang menguatkan pernyataan sebelumnya, misalnya: malahan

📌Konjungsi yang menyatakan pertentangan dengan pernyataan sebelumnya misalnya: namun, akan tetapi.

Contoh kalimat menggunakan konjungsi antar kalimat: 

1. Jangan memiliki mental meminta-minta. Sebaliknya, kita harus memiliki mental memberi.

2. Ia kini menjadi orang kaya. Sesungguhnya, semua itu Karena dia bekerja keras semenjak muda.

📝 Selain itu ada juga konjungsi antar paragraf yakni konjungsi yang berfungsi menghubungkan dua paragraf sehingga menjadi suatu paragraf yang koheren dan sistematis. 

Kata hubung yang kerap digunakan di antaranya:

Terlebih lagi, disamping, oleh karena itu, berdasarkan, jadi.

Contoh konjungsi antarparagraf:

    Rindu adalah anak yang periang sejak kecil. Ia sangat senang bermain-main bersama ayah dan ibunya. Walaupun anak tunggal, Rindu tidak pernah manja. Ia selalu membantu pekerjaan ibu tanpa diminta. Akan tetapi sekarang semua tinggal kenangan. Semua kebahagiaan itu sudah terenggut darinya. Kecelakaan penyebab semua itu.

    Terlebih lagi, bukan hanya ayahnya yang pergi tetapi juga ibunya. Hanya Rindu yang bisa diselamatkan. Beruntung Rindu dapat dikeluarkan dari mobil sebelum mobil itu meledak.


01 Nopember 2021


Wednesday, October 28, 2020

 



Oleh: Diana


Terkenang sejarah nusantara diciptakan

Gema sebuah sumpah kepemudaan

Diaminkan para malaikat di sisi Tuhan

Satu bahasa, tumpah darah, bangsa diikrarkan


Membahana satukan tekad mengisi perubahan

Lengan baju kaum muda disingsingkan

Harapan memajukan negeri digelarkan

Berkembang di mata dunia, tonggak, kemerdekaan


Pemuda adalah nafas bangsa yang dilahirkan

Laksana benih suci yang tumbuh tuk mengukuhkan

Mengikat erat jiwa, raga, nyawa di ragam kepulauan

Generasi emas bangsa dalam kemuliaan satu tujuan.


Jamblang, 28 Oktober 2020.

Thursday, October 15, 2020

 


Oleh: Diana Pita


Maafkan aku jika mengharapkanmu

Maafkan aku jika menunggumu

Maafkan aku jika yakin kau adalah jodohku

Maafkan aku yang percaya pada mimpi itu


Aku mencintaimu karena Allah

Itulah yang aku rasakan saat ini, sejak awal aku menemukanmu

Jujur, tak bisa kuhilangkan wajahmu dan namamu dalam hati ini,

apalagi saat mimpi itu hadir dalam tidurku

Keyakinanku bertambah kuat,

yakin kau adalah adalah yang terbaik,

kauakan mendampingiku dengan kesetiaan, ketulusan, serta keimanan yang ada di hatimu

Mungkin kaumeragukanku, mungkin kau tak percaya padaku

Tapi maafkan aku jika masih berharap mimpi itu menjadi nyata

Indahnya raut wajahmu, lembutnya tatapan matamu, keteduhan hatimu yang membuatku luluh di hadapanmu


Jika aku boleh berharap, aku ingin mimpi itu menjadi nyata hidup bersama dalam naungan cinta dan ikatan yang diridhoi Allah

Bersama berjuang di jalan-Nya

Aku mencintaimu karena Allah


Ya Allah

Jika benar dia jodohku

Jika aku adalah bagian dari tulang rusuknya yang hilang dengan kekuasaan dan kehendak-Mu,

Maka satukanlah kami dalam ikatan

Dengan jalan terindah dengan cara yang tak pernah kubayangkan sebelumnya


Ya Allah

Karena Engkau aku merindukannya

Karena Engkau aku mencintainya

Karena Engkau aku menantikannya

Karena Engkau aku bertahan dalam rasa sakitnya merindu

Karena Engkau aku terus bertahan dan berharap dalam asa, dan rasa yang tak pernah kutau kapan waktu itu akan tiba


Untuk calon imamku,

Aku masih di sini

Aku selalu ada untukmu

Aku akan tetap menantikanmu

Percayalah aku menantikanmu karena Allah

Takkan kutinggalkan kauhanya karena hal kecil

Kesalahan yang pernah kaubuat padaku,

Aku mencintaimu karena Allah


Cirebon, 8 Oktober 2020

Thursday, October 8, 2020


Untukmu yang tidur mengenakan dasi. Kautahu? Jangankan kita, Masyarakat, bungkus gorengan pun berkelakar menggelar

Tujuanmu, menggemakan pekikkan gagak di tengah malam. Kami akan sampaikan salam rindu dengan puisi dan syair syahdu, teruntuk dirimu, sang Penguasa.


 Indonesia Butuh Cinta yang Merata


Oleh Anni Cahya


Katanya,

Indonesia itu penuh cinta

Ternyata,

Cinta itu tak pernah merata

Cinta hanya untuk yang punya harta

Cinta tak pernah di beri untuk kami, yang tak punya apa-apa

Kami hanya minta cinta yang merata

Agar hidup berdampingan, bisa bahagia bersama-sama


#gagalkanomnibuslaw




Lalim

Oleh : Wawat Qomariyah


Ada apa ini?

Udara pagi berubah suram

Pengap dengan keresahan

Pasalnya malam tadi ada keputusan merugikan

Kebijakan tak karuan baru saja ditetapkan

Catatan sejarah kelam bertambah lagi


Ribuan wajah marhaen terpasang pucat pasi

'Ini pembunuhan' keluh batinnya

Suaranya telah habis menjerit

Sayang, nyatanya mereka terlanjur tuli

Tak mau tahu tentang tangisan anak negeri


Masa bodoh tentang bangsa ini

Toh, kita memang hanya mencari untung

Urusan apa dengan krisis legitimasi

Toh, bangku ini telah diduduki

Peduli apa dengan kesejahteraan rakyat ini

Kenal saja tidak


Nyatanya ibu pertiwi memang sedang bersusah hati

Diinjak dan dikotori oleh puan tuan tak tahu diri

Dulu saja menghamba meminta suara kami

Saat ini, jangankan tepati janji

Keluhan kami saja tak ditepati

Memang tak berfungsi


Suara kami mengawang

Melebur pada pengaharapan tak tercapai

Kami hampir lupa tentang keadilan sosial

Karena kami selalu dirugikan

Saat nyawa kami terancam wabah antah berantah

Dengan sekali tikaman kebijakan brutal

Kaurenggut sisa pengharapan kami

Nafas hidup ini hampir sekarat

Lalu tewas di tanah sendiri


Hingga pada titik kami tahu

Kata 'LALIM' masih terlalu manis

Bagi kalian pembantai bangsa ini


Kuningan, 7 Oktober 2020



Suara Rakyat


Oleh Lukman


Rakyat,

Rakyat,

Suara itu bergema di tengah maraknya virus Korona

Lihatlah kawan, mereka rapatkan barisan tuk melawan

Melawan?

Mereka melawan kedzaliman para pengkhianat rakyat!


Mosi tidak percaya!

Mosi bergerak bak laskar cinta

Mosi hancurkan tahta,

Tahta kedzaliman para penguasa


Adakah secuil cinta di negeriku?

Secuil cinta untuk menyumbat pori-pori kerakusan si Fulan

Hingga kami tahu bahwa negeriku sedang baik-baik saja


Cirebon, 07 Oktober 2020


Sebelum Waktu Memasuki Dini Hari

Oleh: Iskandar


Di bawah cahaya lampu

Mencoba terjemahkan 

Puisi dari rumi

Sebelum waktu

Memasuki dini hari


Sementara wabah belum hilang dari semesta

Sedangkan berita di media

Tentang undang-undang yang baru bagi tenaga kerja

Membuat seluruh lapisan keluarga resah dan gelisah

Seakan kebakaran jenggot


Singkat cerita

Dalam perjalanan pulang dari rumah sakit sang dokter dengar suara

Seorang

Musisi jalanan

Mendendangkan lagu

Iwan Fals,

"Wakil Rakyat seharusnya merakyat jangan tidur waktu sidang soal rakyat

Wakil Rakyat bukan paduan suara

Hanya tau nyanyian lagu setuju"


Dalam hati bertanya 

Apakah luna masih tetap sejati pada nabastala

Untuk melayani malam?


Demi shalawat 

Yang terus menerus

Bergema dalam pesantren

Apa warna yang tepat di awal bulan Oktober?


Cirebon, 8 Oktober 2020


Omnibus Law

Oleh Syela MaPurSa


Di sudut malam ...

Mataku belum juga terpejam

Kuambil benda pipih di nakas ranjang

Untuk mengisi waktu luang


Kuhidupkan data dengan kuota malam

Melihat berbagai unggahan yang kini sedang viral

Ternyata trending topik adalah omnibus law


Apa itu omnibus law?

Saat itu yang terlintas di pikiranku adalah peraturan terkait bus

Apakah tarif bus naik lagi?

Ataukah pemusnahan bus?


Tapi ternyata aku salah

Omnibus law adalah RUU yang terkait dengan buruh

Hak hak buruh yang terampas

Oleh oknum yang mementingkan kelas atas


Tak kusangka

Ternyata ada manusia setega mereka

Janji yang diucapkan untuk menyejahterakan rakyat

Apakah mereka tidak ingat?


Untuk mencapai posisi itu mereka membutuhkan suara rakyat

Namun saat telah tercapai mereka malah menghianati rakyat

Bolehkah kusebut mereka manusia bejat?


Rasa kesal ini melanda dada

Terasa menyesakkan mengetahui sikap mereka

Kuberharap semoga Tuhan memberi hidayah

Kepada mereka yang serakah

Agar tak lagi membuat rakyat sengsara


Kututup benda pipih itu

Berdo'a sebelum terlelap

Dengan hati yang penuh harap

Semoga UU itu segera lenyap


Di atas kursi, 08 Oktober 2020

Monday, October 5, 2020



Karya: Rokhmatul Maula


Layaknya senja kaubisa pergi kapan saja.

Rasanya terlalu egois jika memaksakanmu untuk tetap di sini bersamaku

Kauboleh datang dan pergi sesuka hatimu.

Pintu hatiku selalu terbuka untukmu.

Walaupun kaudatang tidak lagi dengan hati yang sama.

Namun, aku senang, karena aku adalah tempat pulangmu walaupun sementara.


05 Oktober 2020



Oleh : Syela MaPurSa


Kepada waktu yang terus berlalu

Aku ingin menyampaikan curahan hatiku padamu


Kemarin itu luang

Kemarin itu ramai

Kemarin itu bahagia

Kemarin itu sehat


Kini kusadari ...

Indah nikmat sehat itu

Walau kumenangis meronta

Kau tak akan kembali menjadi kemarin, bukan?


Wahai waktu ...

Bagaimana rasanya menjadi angin?

Apakah yang ia rasakan ketika berhembus menerjang ruang hampa

Dan apa yang ia rasakan ketika menerjang bangunan


Apakah angin pernah berpikir untuk kembali mengulang masa lalu?



Namun sungguh,

Bukan maksudku untuk kufur

Aku hanya ingin lebih bersyukur

Tanpa melihat ukur


Tengah kamar, 04 Oktober 2020

Sunday, September 20, 2020

 


Kelas menulis yang diadakan pada tanggal 20 September 2020 oleh Pena IAI Bunga Bangsa Cirebon bersama pemateri Neni Yulianti sangat memotivasi para penulis pemula. Sebenarnya, kegiatan ini diadakan selama 4 kali pertemuan daring (26-29 Agustus 2020) dan 1 kali luring (20 September 2020). Kemampuan Neni dalam menyairkan dan menciptakan puisi tidak bisa diragukan lagi. Terbukti dari beberapa karyanya yang masuk dan menjuarai lomba tingkat nasional hingga Asia Tenggara.

Di kesempatan bersama anggota Pena IAI Bunga Bangsa Cirebon, Neni tak hanya melulu membahas tentang materi puisi, akan tetapi kegiatan ini juga memberikan tips bagaimana menjadi seorang penulis yang sukses. Kemudian ditambah beberapa tips untuk menjuarai setiap lomba khususnya di bidang sastra seperti puisi dan cerpen.

Menurutnya, ada catatan penting bila ingin menjadi seorang penulis yang besar atau sukses yaitu harus memiliki tekad dan impian besar pula. Karena dengan mimpi besar akan membawa alam bawa sadar memproyeksikannya menjadi kenyataan. Selain itu, harus bisa fokus dalam bidang tersebut untuk menjadi penulis yang handal. Lalu, beliau pun menuturkan bahwa seorang penulis harus memiliki personal branding yang terus dijaga. Dengan demikian, hal tersebut mampu memberikan aura positif bagi diri sendiri dan orang lain.

"Selagi masih muda, fokuslah untuk menjadi seorang penulis," Neni Yulianti

Salah satu hal yang penting bahwa memanfaatkan masa muda seperti sebuah kereta ekspres dalam pencapaian semua impian dengan cepat. Pesannya memang terkesan remeh, tetapi memang apa yang dikatakan tersebut sangat penting untuk dijadikan sebagai pedoman bagi para pemuda dan penulis pemula.

Cirebon, 20 September 2020
Lukman

Friday, July 24, 2020



Oleh: Iskandar         

Semula aku mengira
Waktu yang telah kulewati
Antara aku, kau dan dia
Di semester awal
Hanya ilusi dalam lamunanku

Awalnya aku tak sadar
Semua hari yang kuhabiskan
Antara aku, kau dan dia
Di semester awal
Sekedar mimpi dalam tidur panjangku  

Meski hanya sementara
Kumelihat senyum di wajah
Ketika kau dan dia
Duduk di sebelahku
Di semester awal

Walau hanya sebentar
Wangi dari dirimu memeluk pernafasanku
Di kala kau dan dia
Berdiri di sampingku
Di semester awal

Segalanya begitu nyata tanpa dusta
Di semeter awal

Izinkanlah diriku
Sebut namamu dalam doaku
Setiap kuwajibkan lima waktu
Dari pesan nabiku
Izinkanlah diriku

Cirebon, 24 Juli 2020




Oleh: M. Iklil

Selamat pagi jingga
Malamku tadi tanpa mimpi
Hanya ada sedikit bayang senyummu
Mataku enggan untuk terpejam

Terbesit irama kicauan kenangan yang tak pernah sanggup aku lupakan
'Ku sripit lagi kopi bekas semalam
Dan aku mulai menyelam kedalam bayang-bayangku yang kelam
Aku mulai terhanyut kedalam pusaran angan
Sampai pada akhirnya aku kembali terlelap dalam harapan.

Pojok kamar, 24 Juli 2020

Thursday, July 23, 2020


Oleh: M. Iklil

Memutar kembali alur yang pernah kita jumpai dalam bait yang menyedihkan.
Tentang pertemuan yang pada nyatanya harus ada perpisahan.
Perihal perpisahan memang selalu menyakitkan
Ingatkah kawan, perjumpaan kita bukanlah perjumpaan yang kita inginkan.
Perjumpaan yang ditentukan akademisi yang harus dijalankan
 
Nyatanya kita sudah terlalu nyaman
Hingga akhirnya kita enggan untuk melakukan perpisahan
Terima kasih, telah menerimaku menjadi teman
Saat ini aku telah sadar bahwa pertemuan adalah proses yang menyakitkan
 
Maafkan aku teman, pribadiku memang sangat menjengkelkan
Tentang aku yang memiliki sejuta kekurangan,
Aku yang selalu tidak bisa diharapkan
dan maafkan atas perkataanku yang tak berkenan.
 
Teman, melangkah dan melompatlah aku tak akan menghentikanmu
Melangkah sedikit maju untuk cita-citamu.
Melompot setinggi yang kaumau dan gapai semua mimpimu
Semoga perjumpaan ini selalu kaukenang hingga pada akhirnya kauceritakan pada cucumu.

Wednesday, July 22, 2020



Oleh: M. Iklil

Entah menapa ketika kau tak lagi bersamaku
Emosiku selalu menguasai jiwaku
Tawaku yang penuh dengan kepura-puraan
Dan juga selalu ditikam kepedihan

Hingga pada akhirnya, 
Aku terbiasa dengan kepura-puraaan dan kepedihan
Kaudatang kembali, 
Ketika kau baru merasa kehilangan

Kaubaru merasa kehilangan!
Sedangkan aku, kehilangan kausejak lama
Sejak kau meninggalkanku sendirian 
Dan semenjak itu pula, aku bahagia dengan kepura-puraan dan kepedihan

Cirebon, 21 Juli 2020

Tuesday, July 21, 2020


Oleh: Iskandar

Rahasiakan cerita sehabis subuh
Melintasi jalan raya 
Meski tak sesuai rencana
Hanya sebentar 
Membawa nyawanya
Tanpa melihat wajah
Sebab bagaskara masih sembunyi dari semesta
Berharap ada kisah baru
Mengisi setiap waktu
Yang telah lama rapuh
Antara aku dan dia
Sebelum pulang 
Sempat kusampaikan
Lewat jemari
Dalam sebuah pesan
Jangan lelah hadapi
Segala kelemahan suaraku

Cirebon, 21 Juli 2020

Saturday, July 11, 2020


Oleh: Lukman Fath

Serdadu muda berhamburan keluar rumah, membawa cangkir-cangkir rindu bagi pemiliknya
Aku hanya bisa terpanah memandang secangkir rindu yang kosong tanpa pemiliknya
Aku berlarian tetapi tak ada kompas yang bisa menuntunku untuk kembali
Surau-surau kota tampak tak bergema untuk menyambutku yang sedang tersesat dalam rindu
Tak ada cangkir yang bisa aku kembalikan lagi, hanya setetes rindu yang membuatku terkekeh tuk berlari

Seruan-seruan malam menyambutku dalam lambung gemerlap dunia
Di pojok kota, aku memandang langit seakan merintih merindu uap-uap doa
Serdadu-serdadu muda di sana, merangkul api dengan syahdunya
Alangkah malang nasibnya, mengembalikan rindu dengan ditukar bara

Salah, bila rindu kaubuat dan ditukar bara
Salah, bila para serdadu muda lebih memilih bara daripada embun di pagi cerah
Aku terkekeh 'tuk membuat skala-skala jalan para serdadu
Kubuatkan ia, sebuah rute-rute ke jalan dengan rambu-rambu norma

Saturday, June 13, 2020


Foto diambil dari acara KOMPAK 2019
 

Semakin masifnya penyebaran pandemi covid-19 membuat pemerintah turut menghimbau agar masyarakat tetap di rumah saja. Beberapa perusahaan sudah memberlakukan Work From Home, tak terkecuali instansi pendidikan.

 

Pelajar dan mahasiswa kini lebih sibuk di rumah. Dengan diberlakukannya sistem belajar di rumah, demi menekan angka penyebaran virus corona, puncaknya ialah saat ujian nasional yang seharusnya berlangsung April ini untuk tingkat SMA terpaksa ditiadakan. Imbas dari peniadaan ujian nasional adalah pelajar tidak bisa lagi corat-coret seragam saat pengumuman kelulusan. Juga kini mulai berkurang alasan bagi seorang pelajar saat ingin mengakhiri hubungan dengan dalih mau fokus UN. Kang Emil selaku Gubernur Jawa Barat bahkan memprediksikan kegiatan belajar secara normal kemungkinan baru dimulai Januari 2021, dan dapat dipastikan pembelajaran akan berlangsung secara online.

 

IAI Bunga Bangsa Cirebon salah satu kampus yang berada di Jawa Barat turut serta mempertimbangkan kuliah daring kembali untuk menyambut semester baru yang diperkirakan akan dimulai akhir Juni ini. Meskipun pemerintah pusat telah menyerukan New Normal guna menjalankan kehidupan seperti biasa dengan syarat memperhatikan protokol kesehatan. Agaknya, kampus IAI Bunga Bangsa tidak perlu resah dengan perkuliahan metode daring ini, bahkan sebelumnya sudah pernah berjalan saat awal-awal pandemi ini menginvasi seluruh nusantara. Sementara kampus-kampus lain masih menggunakan online grup whattsapp atau aplikasi Zoom yang durasinya terbatas. IAI Bunga Bangsa cukup beruntung memiliki sistem e-campus demi mendukung kegiatan belajar online, dengan banyak fitur yang semakin memudahkan dosen dan mahasiswa untuk melangsungkan kegiatan belajar mengajar.

 

Sayang, edukasi sistem e-campus saat orientasi mahasiswa tidak sepenuhnya dipahami mahasiswa. Tidak sedikit mahasiswa dan dosen yang masih merasa kebingungan menggunakan sistem ini. Seandainya kegiatan belajar mengajar tidak dipaksa untuk online, boleh jadi sistem ini tidak akan banyak digunakan dan sistem tidak akan diperbaharui seperti saat ini.

 

Namun, saya rasa sistem ini hanya dirancang untuk mengutamakan pengguna yang mengakses dengan laptop atau PC. Memang ada e-campus mode mobile tapi ada beberapa fitur yang tidak ada di e-campus mobile. Salah satu contohnya adalah ketika saya berniat mengunggah tugas di e-campus, tapi salah klik akhirnya yang diunggah malah foto dengan mantan saya. Saya seketika panik setelah mengetahui tidak ada fitur hapus atau membatalkan unggahan. Untungnya, saya bisa menghapus ungggahan tersebut setelah membukanya lewat laptop.

 

Juga barangkali sistem ini perlu disederhanakan kembali, sehingga tidak ada kata atau kalimat yang terlalu panjang, yang malah memperumit fitur itu sendiri, kalau Bapak Rektor butuh seorang UX Writer mungkin saya bisa bantu. Ya, sedikit-sedikit saya paham.

 

Kemajuan sistem e-campus juga perlu diapresiasi, setelah sebelumnya sistem terbilang cukup ruwed kini semakin dipermudah. Ya, minimal sekarang ada background Bapak Rektor sedang mewisudai mahasiswanya. Satu hal yang pasti, saya dan mungkin teman-teman yang lain sebagai mahasiswa sangat-sangat menyayangkan ketika kampus lebih memilih ujian pilihan ganda dibanding essai. Mahasiswa yang kerap dieluh-eluhkan sebagai agent of change, yang sikap kritisnya sering ditakuti penguasa membutuhkan cara-cara memancing nalar kritisnya. Bagaimana mahasiswa bisa kritis ketika dalam ujian saja jawabannya sudah dihidangkan.

 

Tentu IAI Bunga Bangsa bukanlah kampus antikritis seperti kampus yang beberapa waktu lalu menganggap Veronica Koman sebagai narasumber diskusi HAM adalah narasumber yang tidak layak, atau beberapa kampus yang seenaknya malah menaikan biaya UKT di tengah pandemi yang memaksa banyak kehilangan pekerjaan.

 

Kemudian mengenai tugas selama kegitan belajar yang nanti akan berlangsung daring, sebaiknya Bapak-Ibu Dosen tidak menganggap bahwa kuliah online sebagai momen memanfaatkan untuk memberi tugas seabrek. Benar, bisa untuk mengisi waktu saat di rumah, tetapi alangkah lebih baik dipikirkan kembali, karena dampak pandemi ini tidak melulu soal kesehatan. Namun, ada dampak ekonomi yang seringkali memunculkan sentimen bagi tiap-tiap anggota keluarga yang pada akhirnya menimbulkan konflik. Bahkan semenjak pandemi ini berlangsung angka perceraian meningkat, dan tidak sedikit yang sebelumnya terlibat kekerasan dalam rumah tangga. Lebih lanjut, pihak dosen diharap bisa memaklumi hal-hal seperti ini, dengan memberi tugas sewajarnya.

 

Permasalahan terakhir mungkin dirasakan hampir seluruh mahasiswa di Indonesia, mengenai subsidi kuota internet untuk menunjang kuliah daring. Tentu saya harap pihak kampus IAI Bunga Bangsa Cirebon bisa memberikan fasilitas ini. Kalau tidak bisa, ya tidak masalah asal kita semua mahasiswa diperbolehkan ke kampus untuk numpang wifi-an.

 

 

 

Oleh: Fanani

Cirebon, 13 Juni 2020


Sunday, May 31, 2020



Oleh: Syluchi

Terima kasih kaki
Karena telah melangkah bersamaku
Maafkan juga kaki
Karena selalu menurutiku untuk terus melangkah walau terkadang kaulelah

Dalam suatu waktu
Aku juga kesal padamu, kaki
Karena telah bergerak tanpa keinginanku
Dan akhirnya membawaku bertemu dengan dia

Karena itu aku merasakan segala rasa
Bahagia, sedih, cinta, merana
Dengan itu aku tumbuh dewasa
Terima kasih kaki
Terima kasih Tuhan

Gombang, 31 Mei 2020



Karya : Nurhafidzoh Azrotul Maula (Cahaya Aurora)

Langit pun menangis ketika melihat kaujauh
Jauh dari bayanganku

Teringat ketika kaumasih bersamaku
Merajuk aku untuk melanjutkan mimpiku
Mimpi untuk menjadi seorang perwira

Kenangan itu
Kenangan ketika kautersenyum manis di depan aku
Membuat pipi aku seperti tomat

Aku tersipu malu
Aku rindu kaudengan segala sikap kamu


Jakarta Selatan, 30 Mei 2020
Cahaya Aurora


Oleh: Lukman

Hari demi hari suasana desa nampak begitu berbeda. Angin yang biasa datang untuk menyejukan tubuh, kini berganti membawa wabah aneh. Kebanyakan korbannya adalah anak-anak yang berusia di bawah 13 tahun. Tubuhnya panas dan kulit mereka menjadi kasar bak sisik ular. Entah siapa yang mengirimkan wabah ini. Namun yang pasti, ini merupakan sebuah tanda besar.

Namun, tak semua orang lantas mempercayai hal-hal yang dianggap sebuah mitos dan tahayul. Bahkan, Pak Dharmo justru menganggapnya sebagai wabah biasa di musim panceklik. Sebenarnya tabib dan dukun di desa sudah tak sanggup untuk mengobati anak-anak itu. Hingga daun-daun muda itu harus berguguran sebelum waktunya tiba. Jeritan tangis memecah dinding langit yang kokoh. Tetap saja, walau pun demikian Pak Dharmo tak mempercayainya sebagai kenyataan dan tanda besar. Padahal dukun dan tabib itu berkata bahwa mereka didatangi sesosok makhluk besar dan panjang, setiap kali setelah mengobati anak tersebut.

“Pak, aku beberapa kali didatangi makhluk itu. Dia selalu meneriakan namamu dan beberapa warga desa yang lain.” Ucap dukun yang berdiri tegap di ruang aula rumah Pak Dharmo.

“Halah, mimpi itu ‘kan cuma bunga tidur. Itu cuma mimpi Mbah! Udahlah ga usah kamu pikirin lagi!” ketus Pak Dharmo.

“Tapi –” suara dukun itu mendadak terhenti dan berubah menjadi lebih besar

“Dharmo! Waktumu hanya tujuh hari lagi! Ke mana pun kamu lari, takdir tak akan pernah salah alamat. Ingat itu baik-baik!” Mata dukun itu merah nanar dan sambil terus meneriaki Pak Dharmo,

Mendadak ruangan itu menjadi lebih mencekam, jendela-jendela kayu bak sayap burung yang hendak terbang. Terus mengepak dihembus angin yang entah dari mana datangnya. Aroma bunga kantil pun serasa sengaja ditaburkan ke semua hidung orang yang ada di ruangan itu. Namun, Pak Dharmo menyikapinya benar-benar dingin dan acuh tak acuh.

Beberapa menit kemudian, dukun itu lekas sadarkan diri. Wajahnya mulai bercampur aduk, tanpa spasi dan koma dia langsung meninggalkan rumah Pak Dharmo. Aneh, Pak Dharmo tak sedikit pun merasa bersalah dan ketakutan. Ia justru menertawakan makhluk yang merasuki dukun tadi bersama teman-temannya.

“Setan gebleg! Lah, aku diwedini kaya ngono ya ra bakal wedi. Hahaha (Lah, saya ditakuti kaya begitu ya ga bakal takut).” Tawanya dengan segala kejumawahannya.

 Semua orang di rumah itu tertawa terbahak-bahak. Mereka bahkan tak menggubris omongan warga lain. Malah, asyik berpesta ria dengan beberapa minuman keras yang sedari tadi bertengger di meja kaya. Orang gelamor seperti Pak Dharmo memang tidak akan mudah mempercayai tahayul seperti itu walau pun ia melihat dengan mata kakinya.

***

Dua hari setelah kejadian itu, dua puluh persen dari jumlah anak-anak di desa sudah pergi dan tinggal di pelukan bumi. Para warga semakin cemas dan takut. Bahkan sampai ada yang pergi meninggalkan desa. Pak Dharmo? Seperti biasa, dia acuh tak acuh terhadap warganya.

 

Hingga malam itu telah tiba. Pak Dharmo lari kocar-kacir dengan putus asa. Berteriak meminta pertolongan tetapi tak ada satu pun yang mampu mendengarnya. Suara makhluk itu terus menggema di antara pohon-pohon besar. Burung-burung berterbangan hendak menjauh. Langkah Pak Dharmo terhenti kala melihat sebuah gua besar yang menurutnya tempat teraman untuk bersembunyi. Namun sayang disayang, ia terperangah kala melihat teman sejawatnya dililit dan hendak dilahap oleh seekor ular raksasa.

“Mu ... Muklis!” ucapnya terkaku dengan tubuhnya yang tak berhenti gemetaran.

“Tolong aku, Dharmo!” teriak Jono

“Ah? Ka–kamu juga Jon!”

Pak Dharmo hanya terdiam kaku, tanpa pikir panjang ia justru berlari meninggalkan teman sejawatnya itu. Tega betul, teman pestanya ia tinggalkan dan dibiarkan mati dilahap oleh ular itu. Ia terus berlari mencari tempat berlindung. Wajahnya pucat pasih, guyuran keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya.

Istrinya mencoba untuk membangunkannya, tetapi hal itu sia-sia. Namun, matanya masih menutup dan sesekali mengigau tak karuan. Rupanya dia sedang bermimpi didatangi oleh makhluk buas itu. Dengan sekujur tubuhnya yang dipenuhi oleh keringat dingin, dia masih tak kunjung sadarkan diri juga.

“Tolong! Tolong! Tolong!” Pak Dharmo terus merancau tak karuan.

Dia hanya terus mengucapkan itu dalam tidurnya. Hingga beberapa tokoh adat didatangkan termasuk Ki Agung. Namun, hanya Ki Agung yang menyadarkannya. Dengan segenap ilmu yang ia punya, sebuah daun kelor diletakan di dahi Pak Dharmo. Dia tahu dengan daun itu, dapat menetralisir gangguan gaib apa pun.

“Dharmo, bangun Mo!” bisik Ki Agung di telinga kiri Pak Dharmo.

“Tidaaak ... hah!” Dengan napas yang terengah-engah Pak Dharmo bangun dari mimpi buruknya.

 “Sekarang kamu ceritakan apa yang telah terjadi, Mo!” ucap Ki Agung, “Ratmi tolong kamu ambilkan air putih dulu untuk suamimu.”

“Ini Mas. Silakan diminum dulu.” Ucap Ratmi sambil menyodorkan air putih ke mulut Pak Dharmo.

Namun. Pak Dharmo tak mengatakan apa pun kepada semua orang. Walau dipaksa sedemikian rupa, dia enggan mengatakannya dan lebih memilih untuk berbaring di ranjangnya kembali. Orang-orang pun merasa kesal dan beranjak pergi dari rumah Pak Dharmo.

Setelah dua hari dari kejadian itu Muklis dan Jono tewas secara mengenaskan. Jasad kedua ditemukan di ladang milik warga dengan wajah yang membiru dan seperti bekas lilitan. Tak ada satu orang pun yang tahu penyebab kematian mereka berdua. Pak Dharmo yang mengetahui teman sejawatnya tewas mengenaskan itu, badannya menggigil lagi.

“Tinggal tiga hari lagi masamu Dharmo.” Seseorang membisiki Pak Dharmo yang entah dari mana datangnya. Wujudnya pun tak nampak mata. Pak Dharmo terus menengok  dan mencarinya ke sana ke mari. Namun, wujud orang yang membisikinya tadi benar-benar tak ada. Dia hanya seorang diri di kamarnya, istrinya pun sedang keluar.

***

“Aduh Gusti, sebentar lagi dia akan datang.” Resah Ki Agung Kusumo, “Ndok, cepet bereskan pakaianmu dan bawa prabotan yang bisa dibawa!”

“Iya Pak.” Ucap Leli dan bergegas menuruti perintah Ki Agung Kusumo.

Suara erangan terdengar keras memenuhi sudut-sudut desa. Semua orang keheranan mendengarnya. Ada juga yang merapihkan pakaian dan beberapa prabotan rumah seadanya. Syamsul lari tungang langgang dari arah pemakaman.

“Dia ... benar-benar datang!” Wajah Syamsul pucat pasih dan dipenuhi oleh keringat dingin.

“Siapa Syul?” tanya seorang warga.

“Bereskan pakaian kalian, lalu cepet lari!” teriak Syamsul sambil meneruskan larinya.

“Hah?! A .. apa itu? Lari!” teriak seorang warga

Ulah Lanang Segede Sepur!” Semua warga meneriakan makhluk itu.

Sesosok ular besar itu melata dengan cepet dari arah datangnya Syamsul. Benda apa pun setiap dia melewatinya akan dihancurkan tanpa tersisa. Dengan tubuhnya yang sebesar kereta api itu, tentu membuatnya sangat mudah menghancurkan apa pun. Berbondong-bondong warga berlarian menghindari dan menyelamatkan diri dari makhluk itu.

Rumah warga banyak yang hancur tak bersisa. Mayat-mayat warga pun banyak yang bergeletakan di jalan. Rumah segagah apa pun tak akan bisa melindungi mereka dari amukan makhluk ini. Tempat perjudian, pelacuran, dan warung remang-remang hancur berkeping-keping. Semua warga panik dan putus asa. Nyawa mereka sudah berada di ujung tanduk.

Hanya satu tempat yang tidak terjamah oleh ular itu. Tempat itu adalah mushola yang beberapa bulan lalu tak terjamah oleh siapa pun. Ternyata ular itu enggan untuk menghancurkan bangunan ini. Dia pun secepat kilat mengejar lelaki paruh baya yang tak lain adalah Pak Dharmo.

“Tidak, tolong maafkan aku!” rintihnya memelas

“Sstttzt.” Ular itu hanya terus berdesis tak menghiraukan Pak Dharmo yang terus lari ketakutan.

“Dharmo! Cepat sembunyi di sini!” teriak Ki Agung dari dalam mushola

Namun, dia tak bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Ki Agung Kusumo. Dia terus berlari mencari pertolongan. Di bawah pohon besar dekat pemakam, dia terjebak dan tak bisa lagi berlari. Kakinya tersandung batu dan tak bisa digerakan lagi. Tubuhnya dililit sampai tak lagi bernapas, lalu ular itu melahapnya dengan cepat. Sayang, semua kekuasan, kedudukan, kekerabatan, dan hartanya tak dapat menyelamatkannya dari ganasnya sang Ular.

Setelah itu, bumi diguyur hujan deras selama tiga hari. Penguasa langit ingin membersihkan sisa-sisa kehancuran di desa tersebut. Warga yang masih selamat, keluar dari mushola untuk memastikan ular itu sudah tak ada lagi. Udara segar datang dari arah barat, menandakan musibah itu telah berlalu. Sejak hari itu, warga tak lagi mendengar dan melihat Pak Dharmo. Istri dan anaknya pun entah ke mana bak ditelan bumi.

Warga kembali membangun desanya. Cerita ini akan terus menjadi sebuah nasihat besar untuk generasinya mendatang. Mereka akhirnya pun sadar bahwa tak ada kekuasaan yang dapat menandingi kehendak-Nya. Keangkuhan dan keserakahan akan membawakan alat penghancur massal yang tak terelakan. Semenjak hari itu juga rumah peribadatan tak pernah sepi.


Saturday, May 30, 2020



Oleh
Dewi Pribadi

Kata mereka aku gila
Karena aku menjatuhkan cinta
Pada dia begitu saja

Kata mereka aku gila
Karena aku jatuh cinta
Pada dia
Tanpa melihatnya harus begini atau begitu

Kata mereka aku gila
Karena dengan tiba-tiba
Aku menjadi sayang
Cinta yang tanpa alasan

Rasa yang tetiba ada
Meski wajahnya tak pernah nampak
Benar mungkin 
Yang kata mereka aku gila
Gila yang membuatku suka dengan sepi
Gila yang membuatku suka dengan hidupku yang sendiri

Kenapa?
Karena selalu ada dia 
Karena selalu ada dia duduk
Di sudut hati yang kerap kulatih
terbiasa dengan sunyi
Karena dia terjaga dalam peluk
rasa yang biasanya sepi

Kata mereka aku gila
Karena aku sangat mencintai dia
Dan bahkan aku sering menangisinya tanpa perlu ada alasan sesal ini dan itu

Kata mereka aku gila
Merindukan dia sampai membabi buta

Kata mereka aku gila 
Karena dia
Aku bisa dengan tiba-tiba menjadi orang yang berseri-seri

Dan,
Kata mereka aku gila
Karena dia ada  doa yang selalu setiap hari  tanpa kurencanakan

Satnight, 19.00
Mei, 2020