KASIH IBU SETULUS LILIN
Oleh : Diana Pita
Seperti bening embun menitiskan kasih
Pada kuntum 'puspa' nan menyerikan taman
Bakal semarai kelopak segar terali pagar
Ialah beliau, Sang Ibu yang merawat dan menjagaku sedari kecil
Seperti tulusnya lilin yang menyala
Rela terbakar hingga leleh ke punca
Peluh menguras raga, keluh tak dirasa
Demi cita, jua demi cinta pada 'sang buah hati'
Tiada mutiara yang lebih kemilau
Daripada butiran air mata yang menetes di pipinya
Walau selut intan, segunung berlian
Kasih sayangnya tak akan mampu tertandingi
Karena di dalamnya bersemayam 'cinta'
Di bawah telapak kakinya ada 'surga' nan selalu kurindukan
Untukku dan untukmu mengalir selalu kasih sayangnya
Cirebon, 22 Desember 2021
~ @RK_11 ~
KAIDAH KEPENULISAN MENGENAI KATA HUBUNG (KONJUNGSI)
A. Pengertian
Konjungsi (kata penghubung) adalah kata tugas yang fungsinya menghubungkan antarklausa, antarkalimat, dan antarparagraf. Kata penghubung antarklausa biasanya terletak di tengah-tengah kalimat, sedangkan kata penghubung antarkalimat di awal kalimat (setelah tanda titik, tanda tanya, dan tanda seru), adapun kata penghubung antar paragraf letaknya di awal paragraf. Namun, sebelum mengulas seputar kata sambung, kita harus paham terlebih dahulu tentang apa itu kata, klausa dan kalimat. Keduanya berkaitan erat dengan kata sambung.
Kata
Menurut KBBI, kata adalah unsur bahasa yang diucapkan atau dituliskan yang merupakan perwujudan kesatuan perasaan dan pikiran yang dapat digunakan dalam berbahasa. Dalam sebuah kalimat, kata merupakan salah satu unsur terkecil.
Kata terbentuk dari beberapa huruf yang terangkai untuk menciptakan makna tertentu. Contoh dari kata sederhana yang sering kita gunakan adalah tidur, bekerja, belajar, dan masih banyak lagi.
Klausa
Terkadang kita sulit untuk membedakan klausa dan kalimat. Namun, bila kita telah memahami makna dan fungsinya, kita dapat membedakan keduanya dengan mudah. Klausa merupakan satuan gramatikal yang berupa kelompok dari kata, terdiri atas sekurang-kurangnya subjek dan predikat yang akan berpotensi menjadi kalimat. Klausa yangs sering kita temui dalam kehidupan sehari – hari contohnya Nenek sedang makan.
Dalam klausa tersebut terdiri dari satu subjek (nenek) dan satu predikat atau kata kerja (sedang makan). Dalam susunannya, klausa lebih pendek atau singkat dibandingkan kalimat. Dalam sebuah klausa hanya terdiri dari subjek dan predikat.
Kalimat
Berdasarkan KBBI, kalimat adalah satuan bahasa yang secara relatif berdiri sendiri, mempunyai pola intonasi final dan secara aktual maupun potensial terdiri atas klausa. Klausal lebih sederhana dan tidak sekomplek kalimat.
Kalimat terdiri dari subyek, predikat, obyek, dan keterangan (baik keterangan tempat, waktu dan sebagainya).
B. Fungsi Konjungsi
Fungsi konjungsi menghubungkan:
1. Kata dengan kata.
2. Frasa dengan frasa.
3. Klausa dengan klausa.
4. Kalimat dengan kalimat.
5. Paragraf dengan paragraf (konjungsi antarparagraf dinamakan transisi).
C. Macam-Macam Konjungsi Secara Umum
Secara umum, macam konjungsi dibagi menjadi dua yaitu konjungsi antarkalimat dan konjungsi intrakalimat.
1️⃣ Konjungsi Intra Kalimat (Antar Klausa)
Konjungsi intrakalimat adalah jenis konjungsi yang menghubungkan antara klausa induk dan klausa anak. Penggunaan konjungsi ini terletak di bagian tengah kalimat.
Konjungsi intrakalimat adalah kata yang menyambungkan klausa dengan klausa, frasa dengan frasa dan satuan kata dengan kata. Konjungsi intrakalimat terbagi menjadi dua yaitu konjungsi koordinatif dan konjungsi subordinatif, yang akan dijelaskan di bawah ini.
Jenis konjungsi intra kalimat digolongkan menjadi tiga, yaitu konjungsi koordinatif, subordinatif, dan korelatif .
📌Konjungsi Koordinatif
Konjungsi koordinatif merupakan konjungsi yang menghubungkan dua klausa atau lebih yang memilki kedudukan sederajat/ setara. Diantaranya yaitu : padahal, lalu, kemudian, sedangkan, melainkan, atau, dan, tetapi.
Contoh konjungsi koordinatif:
Aldi sibuk bermain game, padahal ia harus mengerjakan PR.
📌 Konjungsi Subordinatif
Konjungsi subordinatif merupakan konjungsi yang menghubungkan dua klausa atau lebih yang tidak sama derajatnya. Beberapa contoh konjungsi subordinatif antara lain agar, untuk, supaya, sebab, karena, seperti, seakan-akan, jika, sejak, ketika, andaikan, walaupun, bahwa, dll.
Contoh konjungsi subordinatif:
Nisa tetap pergi walaupun masih hujan deras.
📌 Konjungsi Korelatif
Konjungsi korelatif merupakan konjungsi yang menghubungkan dua kata yang setara, baik kata, frasa, klausa, ataupun kalimat.
Konjungsi jenis ini sama halnya dengan konjungsi koordinatif, bedanya kata penghubung pada konjungsi ini terdiri atas beberapa gabungan kata, sedangkan konjungsi koordinatif hanya terdiri dari satu kata saja.
Jika saja beberapa kalimat tidak dihubungkan dengan kata hubung, maka kalimat tersebut menjadi ambigu dan rancu, sehingga sulit dimengerti.
Kalimat yang menggunakan penghubung korelatif disebut kalimat korelatif.
Contoh : demikian-sehingga, baik-maupun, tidak hanya-tetapi juga, tidak hanya-bahkan, bukannya-melainkan, jangankan-melainkan, sedemikian rupa-sehingga, entah-entah.
Contoh konjungsi korelatif:
Tidak hanya cuci muka, bahkan kami menyempatkan untuk mandi dan berenang di pemandian air hangat itu sehingga badan kita sehat.
2️⃣ Konjungsi Antar Kalimat
Konjungsi antar kalimat adalah jenis konjungsi yang menghubungkan kalimat satu dengan kalimat lainnya. Biasanya konjungsi ini dipakai untuk menunjukan adanya perbedaan arti atau perbedaan makna. Dalam penggunaannya konjungsi antarkalimat diletakkan pada bagian awal kalimat. Namun di beberapa kasus bisa juga yang diletakkan setelah tanda titik, tanda tanya, dan tanda seru.
Pembagian jenis-jenis konjungsi antarkalimat ini berdasarkan fungsinya. Diantaranya adalah sebagai berikut.
📌Konjungsi pertentangan, misalnya: bagaimanapun, biarpun, walaupun demikian.
📌Konjungsi yang menyatakan lanjutan, misalnya: sesudah itu, setelah itu.
📌Konjungsi yang menyatakan kejadian sebelumnya. misalnya: sebelum itu
📌Konjungsi yang menyatakan akibat, misalnya: oleh karena itu, oleh sebab itu.
📌Konjungsi yang menyatakan kebalikan dari pernyataan sebelumnya, misalnya: sebaliknya
📌Konjungsi yang menyatakan keadaan sebenarnya, misalnya: sesungguhnya, bahwasanya.
📌Konjungsi yang menyatakan konsekuensi misalnya: dengan demikian.
📌Konjungsi yang menguatkan pernyataan sebelumnya, misalnya: malahan
📌Konjungsi yang menyatakan pertentangan dengan pernyataan sebelumnya misalnya: namun, akan tetapi.
Contoh kalimat menggunakan konjungsi antar kalimat:
1. Jangan memiliki mental meminta-minta. Sebaliknya, kita harus memiliki mental memberi.
2. Ia kini menjadi orang kaya. Sesungguhnya, semua itu Karena dia bekerja keras semenjak muda.
📝 Selain itu ada juga konjungsi antar paragraf yakni konjungsi yang berfungsi menghubungkan dua paragraf sehingga menjadi suatu paragraf yang koheren dan sistematis.
Kata hubung yang kerap digunakan di antaranya:
Terlebih lagi, disamping, oleh karena itu, berdasarkan, jadi.
Contoh konjungsi antarparagraf:
Rindu adalah anak yang periang sejak kecil. Ia sangat senang bermain-main bersama ayah dan ibunya. Walaupun anak tunggal, Rindu tidak pernah manja. Ia selalu membantu pekerjaan ibu tanpa diminta. Akan tetapi sekarang semua tinggal kenangan. Semua kebahagiaan itu sudah terenggut darinya. Kecelakaan penyebab semua itu.
Terlebih lagi, bukan hanya ayahnya yang pergi tetapi juga ibunya. Hanya Rindu yang bisa diselamatkan. Beruntung Rindu dapat dikeluarkan dari mobil sebelum mobil itu meledak.
01 Nopember 2021
Oleh: Diana
Terkenang sejarah nusantara diciptakan
Gema sebuah sumpah kepemudaan
Diaminkan para malaikat di sisi Tuhan
Satu bahasa, tumpah darah, bangsa diikrarkan
Membahana satukan tekad mengisi perubahan
Lengan baju kaum muda disingsingkan
Harapan memajukan negeri digelarkan
Berkembang di mata dunia, tonggak, kemerdekaan
Pemuda adalah nafas bangsa yang dilahirkan
Laksana benih suci yang tumbuh tuk mengukuhkan
Mengikat erat jiwa, raga, nyawa di ragam kepulauan
Generasi emas bangsa dalam kemuliaan satu tujuan.
Jamblang, 28 Oktober 2020.
Oleh: Diana Pita
Maafkan aku jika mengharapkanmu
Maafkan aku jika menunggumu
Maafkan aku jika yakin kau adalah jodohku
Maafkan aku yang percaya pada mimpi itu
Aku mencintaimu karena Allah
Itulah yang aku rasakan saat ini, sejak awal aku menemukanmu
Jujur, tak bisa kuhilangkan wajahmu dan namamu dalam hati ini,
apalagi saat mimpi itu hadir dalam tidurku
Keyakinanku bertambah kuat,
yakin kau adalah adalah yang terbaik,
kauakan mendampingiku dengan kesetiaan, ketulusan, serta keimanan yang ada di hatimu
Mungkin kaumeragukanku, mungkin kau tak percaya padaku
Tapi maafkan aku jika masih berharap mimpi itu menjadi nyata
Indahnya raut wajahmu, lembutnya tatapan matamu, keteduhan hatimu yang membuatku luluh di hadapanmu
Jika aku boleh berharap, aku ingin mimpi itu menjadi nyata hidup bersama dalam naungan cinta dan ikatan yang diridhoi Allah
Bersama berjuang di jalan-Nya
Aku mencintaimu karena Allah
Ya Allah
Jika benar dia jodohku
Jika aku adalah bagian dari tulang rusuknya yang hilang dengan kekuasaan dan kehendak-Mu,
Maka satukanlah kami dalam ikatan
Dengan jalan terindah dengan cara yang tak pernah kubayangkan sebelumnya
Ya Allah
Karena Engkau aku merindukannya
Karena Engkau aku mencintainya
Karena Engkau aku menantikannya
Karena Engkau aku bertahan dalam rasa sakitnya merindu
Karena Engkau aku terus bertahan dan berharap dalam asa, dan rasa yang tak pernah kutau kapan waktu itu akan tiba
Untuk calon imamku,
Aku masih di sini
Aku selalu ada untukmu
Aku akan tetap menantikanmu
Percayalah aku menantikanmu karena Allah
Takkan kutinggalkan kauhanya karena hal kecil
Kesalahan yang pernah kaubuat padaku,
Aku mencintaimu karena Allah
Cirebon, 8 Oktober 2020
Untukmu yang tidur mengenakan dasi. Kautahu? Jangankan kita, Masyarakat, bungkus gorengan pun berkelakar menggelar
Tujuanmu, menggemakan pekikkan gagak di tengah malam. Kami akan sampaikan salam rindu dengan puisi dan syair syahdu, teruntuk dirimu, sang Penguasa.
Indonesia Butuh Cinta yang Merata
Oleh Anni Cahya
Katanya,
Indonesia itu penuh cinta
Ternyata,
Cinta itu tak pernah merata
Cinta hanya untuk yang punya harta
Cinta tak pernah di beri untuk kami, yang tak punya apa-apa
Kami hanya minta cinta yang merata
Agar hidup berdampingan, bisa bahagia bersama-sama
#gagalkanomnibuslaw
Lalim
Oleh : Wawat Qomariyah
Ada apa ini?
Udara pagi berubah suram
Pengap dengan keresahan
Pasalnya malam tadi ada keputusan merugikan
Kebijakan tak karuan baru saja ditetapkan
Catatan sejarah kelam bertambah lagi
Ribuan wajah marhaen terpasang pucat pasi
'Ini pembunuhan' keluh batinnya
Suaranya telah habis menjerit
Sayang, nyatanya mereka terlanjur tuli
Tak mau tahu tentang tangisan anak negeri
Masa bodoh tentang bangsa ini
Toh, kita memang hanya mencari untung
Urusan apa dengan krisis legitimasi
Toh, bangku ini telah diduduki
Peduli apa dengan kesejahteraan rakyat ini
Kenal saja tidak
Nyatanya ibu pertiwi memang sedang bersusah hati
Diinjak dan dikotori oleh puan tuan tak tahu diri
Dulu saja menghamba meminta suara kami
Saat ini, jangankan tepati janji
Keluhan kami saja tak ditepati
Memang tak berfungsi
Suara kami mengawang
Melebur pada pengaharapan tak tercapai
Kami hampir lupa tentang keadilan sosial
Karena kami selalu dirugikan
Saat nyawa kami terancam wabah antah berantah
Dengan sekali tikaman kebijakan brutal
Kaurenggut sisa pengharapan kami
Nafas hidup ini hampir sekarat
Lalu tewas di tanah sendiri
Hingga pada titik kami tahu
Kata 'LALIM' masih terlalu manis
Bagi kalian pembantai bangsa ini
Kuningan, 7 Oktober 2020
Suara Rakyat
Oleh Lukman
Rakyat,
Rakyat,
Suara itu bergema di tengah maraknya virus Korona
Lihatlah kawan, mereka rapatkan barisan tuk melawan
Melawan?
Mereka melawan kedzaliman para pengkhianat rakyat!
Mosi tidak percaya!
Mosi bergerak bak laskar cinta
Mosi hancurkan tahta,
Tahta kedzaliman para penguasa
Adakah secuil cinta di negeriku?
Secuil cinta untuk menyumbat pori-pori kerakusan si Fulan
Hingga kami tahu bahwa negeriku sedang baik-baik saja
Cirebon, 07 Oktober 2020
Sebelum Waktu Memasuki Dini Hari
Oleh: Iskandar
Di bawah cahaya lampu
Mencoba terjemahkan
Puisi dari rumi
Sebelum waktu
Memasuki dini hari
Sementara wabah belum hilang dari semesta
Sedangkan berita di media
Tentang undang-undang yang baru bagi tenaga kerja
Membuat seluruh lapisan keluarga resah dan gelisah
Seakan kebakaran jenggot
Singkat cerita
Dalam perjalanan pulang dari rumah sakit sang dokter dengar suara
Seorang
Musisi jalanan
Mendendangkan lagu
Iwan Fals,
"Wakil Rakyat seharusnya merakyat jangan tidur waktu sidang soal rakyat
Wakil Rakyat bukan paduan suara
Hanya tau nyanyian lagu setuju"
Dalam hati bertanya
Apakah luna masih tetap sejati pada nabastala
Untuk melayani malam?
Demi shalawat
Yang terus menerus
Bergema dalam pesantren
Apa warna yang tepat di awal bulan Oktober?
Cirebon, 8 Oktober 2020
Omnibus Law
Oleh Syela MaPurSa
Di sudut malam ...
Mataku belum juga terpejam
Kuambil benda pipih di nakas ranjang
Untuk mengisi waktu luang
Kuhidupkan data dengan kuota malam
Melihat berbagai unggahan yang kini sedang viral
Ternyata trending topik adalah omnibus law
Apa itu omnibus law?
Saat itu yang terlintas di pikiranku adalah peraturan terkait bus
Apakah tarif bus naik lagi?
Ataukah pemusnahan bus?
Tapi ternyata aku salah
Omnibus law adalah RUU yang terkait dengan buruh
Hak hak buruh yang terampas
Oleh oknum yang mementingkan kelas atas
Tak kusangka
Ternyata ada manusia setega mereka
Janji yang diucapkan untuk menyejahterakan rakyat
Apakah mereka tidak ingat?
Untuk mencapai posisi itu mereka membutuhkan suara rakyat
Namun saat telah tercapai mereka malah menghianati rakyat
Bolehkah kusebut mereka manusia bejat?
Rasa kesal ini melanda dada
Terasa menyesakkan mengetahui sikap mereka
Kuberharap semoga Tuhan memberi hidayah
Kepada mereka yang serakah
Agar tak lagi membuat rakyat sengsara
Kututup benda pipih itu
Berdo'a sebelum terlelap
Dengan hati yang penuh harap
Semoga UU itu segera lenyap
Di atas kursi, 08 Oktober 2020
Karya: Rokhmatul Maula
Layaknya senja kaubisa pergi kapan saja.
Rasanya terlalu egois jika memaksakanmu untuk tetap di sini bersamaku
Kauboleh datang dan pergi sesuka hatimu.
Pintu hatiku selalu terbuka untukmu.
Walaupun kaudatang tidak lagi dengan hati yang sama.
Namun, aku senang, karena aku adalah tempat pulangmu walaupun sementara.
05 Oktober 2020
Oleh : Syela MaPurSa
Kepada waktu yang terus berlalu
Aku ingin menyampaikan curahan hatiku padamu
Kemarin itu luang
Kemarin itu ramai
Kemarin itu bahagia
Kemarin itu sehat
Kini kusadari ...
Indah nikmat sehat itu
Walau kumenangis meronta
Kau tak akan kembali menjadi kemarin, bukan?
Wahai waktu ...
Bagaimana rasanya menjadi angin?
Apakah yang ia rasakan ketika berhembus menerjang ruang hampa
Dan apa yang ia rasakan ketika menerjang bangunan
Apakah angin pernah berpikir untuk kembali mengulang masa lalu?
Namun sungguh,
Bukan maksudku untuk kufur
Aku hanya ingin lebih bersyukur
Tanpa melihat ukur
Tengah kamar, 04 Oktober 2020
Kelas menulis yang diadakan pada tanggal 20 September 2020 oleh Pena IAI Bunga Bangsa Cirebon bersama pemateri Neni Yulianti sangat memotivasi para penulis pemula. Sebenarnya, kegiatan ini diadakan selama 4 kali pertemuan daring (26-29 Agustus 2020) dan 1 kali luring (20 September 2020). Kemampuan Neni dalam menyairkan dan menciptakan puisi tidak bisa diragukan lagi. Terbukti dari beberapa karyanya yang masuk dan menjuarai lomba tingkat nasional hingga Asia Tenggara.
Di kesempatan bersama anggota Pena IAI Bunga Bangsa Cirebon, Neni tak hanya melulu membahas tentang materi puisi, akan tetapi kegiatan ini juga memberikan tips bagaimana menjadi seorang penulis yang sukses. Kemudian ditambah beberapa tips untuk menjuarai setiap lomba khususnya di bidang sastra seperti puisi dan cerpen.
Menurutnya, ada catatan penting bila ingin menjadi seorang penulis yang besar atau sukses yaitu harus memiliki tekad dan impian besar pula. Karena dengan mimpi besar akan membawa alam bawa sadar memproyeksikannya menjadi kenyataan. Selain itu, harus bisa fokus dalam bidang tersebut untuk menjadi penulis yang handal. Lalu, beliau pun menuturkan bahwa seorang penulis harus memiliki personal branding yang terus dijaga. Dengan demikian, hal tersebut mampu memberikan aura positif bagi diri sendiri dan orang lain.
"Selagi masih muda, fokuslah untuk menjadi seorang penulis," Neni Yulianti
Salah satu hal yang penting bahwa memanfaatkan masa muda seperti sebuah kereta ekspres dalam pencapaian semua impian dengan cepat. Pesannya memang terkesan remeh, tetapi memang apa yang dikatakan tersebut sangat penting untuk dijadikan sebagai pedoman bagi para pemuda dan penulis pemula.
Hingga pada akhirnya,Aku terbiasa dengan kepura-puraaan dan kepedihanKaudatang kembali,Ketika kau baru merasa kehilangan
Semakin masifnya
penyebaran pandemi covid-19 membuat pemerintah turut menghimbau agar masyarakat
tetap di rumah saja. Beberapa perusahaan sudah memberlakukan Work From
Home, tak terkecuali instansi pendidikan.
Pelajar dan mahasiswa
kini lebih sibuk di rumah. Dengan diberlakukannya sistem belajar di rumah, demi
menekan angka penyebaran virus corona, puncaknya ialah saat
ujian nasional yang seharusnya berlangsung April ini untuk tingkat SMA terpaksa
ditiadakan. Imbas dari peniadaan ujian nasional adalah pelajar tidak bisa lagi
corat-coret seragam saat pengumuman kelulusan. Juga kini mulai berkurang alasan
bagi seorang pelajar saat ingin mengakhiri hubungan dengan dalih mau fokus UN. Kang
Emil selaku Gubernur Jawa Barat bahkan memprediksikan kegiatan belajar secara
normal kemungkinan baru dimulai Januari 2021, dan dapat dipastikan pembelajaran
akan berlangsung secara online.
IAI Bunga Bangsa Cirebon
salah satu kampus yang berada di Jawa Barat turut serta mempertimbangkan kuliah
daring kembali untuk menyambut semester baru yang diperkirakan akan dimulai
akhir Juni ini. Meskipun pemerintah pusat telah menyerukan New Normal guna menjalankan kehidupan seperti biasa dengan syarat
memperhatikan protokol kesehatan. Agaknya, kampus IAI Bunga Bangsa tidak perlu
resah dengan perkuliahan metode daring ini, bahkan sebelumnya sudah pernah
berjalan saat awal-awal pandemi ini menginvasi seluruh nusantara. Sementara
kampus-kampus lain masih menggunakan online
grup whattsapp atau aplikasi Zoom yang durasinya terbatas. IAI Bunga
Bangsa cukup beruntung memiliki sistem e-campus
demi mendukung kegiatan belajar online, dengan banyak fitur yang semakin
memudahkan dosen dan mahasiswa untuk melangsungkan kegiatan belajar mengajar.
Sayang, edukasi sistem e-campus saat orientasi mahasiswa tidak
sepenuhnya dipahami mahasiswa. Tidak sedikit mahasiswa dan dosen yang masih
merasa kebingungan menggunakan sistem ini. Seandainya kegiatan belajar mengajar
tidak dipaksa untuk online, boleh jadi
sistem ini tidak akan banyak digunakan dan sistem tidak akan diperbaharui
seperti saat ini.
Namun, saya rasa sistem
ini hanya dirancang untuk mengutamakan pengguna yang mengakses dengan laptop
atau PC. Memang ada e-campus mode mobile tapi ada beberapa fitur yang
tidak ada di e-campus mobile. Salah
satu contohnya adalah ketika saya berniat mengunggah tugas di e-campus, tapi salah klik akhirnya yang diunggah
malah foto dengan mantan saya. Saya seketika panik setelah mengetahui tidak ada
fitur hapus atau membatalkan unggahan. Untungnya, saya bisa menghapus ungggahan
tersebut setelah membukanya lewat laptop.
Juga barangkali sistem
ini perlu disederhanakan kembali, sehingga tidak ada kata atau kalimat yang
terlalu panjang, yang malah memperumit fitur itu sendiri, kalau Bapak Rektor butuh
seorang UX Writer mungkin saya bisa
bantu. Ya, sedikit-sedikit saya paham.
Kemajuan sistem e-campus juga perlu diapresiasi, setelah
sebelumnya sistem terbilang cukup ruwed kini semakin dipermudah. Ya, minimal
sekarang ada background Bapak Rektor sedang
mewisudai mahasiswanya. Satu hal yang pasti, saya dan mungkin teman-teman yang
lain sebagai mahasiswa sangat-sangat menyayangkan ketika kampus lebih memilih
ujian pilihan ganda dibanding essai. Mahasiswa yang kerap dieluh-eluhkan
sebagai agent of change, yang sikap
kritisnya sering ditakuti penguasa membutuhkan cara-cara memancing nalar
kritisnya. Bagaimana mahasiswa bisa kritis ketika dalam ujian saja jawabannya
sudah dihidangkan.
Tentu IAI Bunga Bangsa
bukanlah kampus antikritis seperti kampus yang beberapa waktu lalu menganggap
Veronica Koman sebagai narasumber diskusi HAM adalah narasumber yang tidak
layak, atau beberapa kampus yang seenaknya malah menaikan biaya UKT di tengah
pandemi yang memaksa banyak kehilangan pekerjaan.
Kemudian mengenai tugas
selama kegitan belajar yang nanti akan berlangsung daring, sebaiknya Bapak-Ibu
Dosen tidak menganggap bahwa kuliah online
sebagai momen memanfaatkan untuk memberi tugas seabrek. Benar, bisa untuk
mengisi waktu saat di rumah, tetapi alangkah lebih baik dipikirkan kembali,
karena dampak pandemi ini tidak melulu soal kesehatan. Namun, ada dampak
ekonomi yang seringkali memunculkan sentimen bagi tiap-tiap anggota keluarga
yang pada akhirnya menimbulkan konflik. Bahkan semenjak pandemi ini berlangsung
angka perceraian meningkat, dan tidak sedikit yang sebelumnya terlibat
kekerasan dalam rumah tangga. Lebih lanjut, pihak dosen diharap bisa memaklumi
hal-hal seperti ini, dengan memberi tugas sewajarnya.
Permasalahan terakhir
mungkin dirasakan hampir seluruh mahasiswa di Indonesia, mengenai subsidi kuota
internet untuk menunjang kuliah daring. Tentu saya harap pihak kampus IAI Bunga
Bangsa Cirebon bisa memberikan fasilitas ini. Kalau tidak bisa, ya tidak
masalah asal kita semua mahasiswa diperbolehkan ke kampus untuk numpang wifi-an.
Oleh: Fanani
Cirebon, 13 Juni 2020
Oleh: Lukman
Hari demi hari suasana desa nampak begitu berbeda. Angin yang biasa datang untuk menyejukan tubuh, kini berganti membawa wabah aneh. Kebanyakan korbannya adalah anak-anak yang berusia di bawah 13 tahun. Tubuhnya panas dan kulit mereka menjadi kasar bak sisik ular. Entah siapa yang mengirimkan wabah ini. Namun yang pasti, ini merupakan sebuah tanda besar.
Namun, tak semua orang lantas mempercayai hal-hal yang dianggap sebuah mitos dan tahayul. Bahkan, Pak Dharmo justru menganggapnya sebagai wabah biasa di musim panceklik. Sebenarnya tabib dan dukun di desa sudah tak sanggup untuk mengobati anak-anak itu. Hingga daun-daun muda itu harus berguguran sebelum waktunya tiba. Jeritan tangis memecah dinding langit yang kokoh. Tetap saja, walau pun demikian Pak Dharmo tak mempercayainya sebagai kenyataan dan tanda besar. Padahal dukun dan tabib itu berkata bahwa mereka didatangi sesosok makhluk besar dan panjang, setiap kali setelah mengobati anak tersebut.
“Pak, aku beberapa kali didatangi makhluk itu. Dia selalu meneriakan namamu dan beberapa warga desa yang lain.” Ucap dukun yang berdiri tegap di ruang aula rumah Pak Dharmo.
“Halah, mimpi itu ‘kan cuma bunga tidur. Itu cuma mimpi Mbah! Udahlah ga usah kamu pikirin lagi!” ketus Pak Dharmo.
“Tapi –” suara dukun itu mendadak terhenti dan berubah menjadi lebih besar
“Dharmo! Waktumu hanya tujuh hari lagi! Ke mana pun kamu lari, takdir tak akan pernah salah alamat. Ingat itu baik-baik!” Mata dukun itu merah nanar dan sambil terus meneriaki Pak Dharmo,
Mendadak ruangan itu menjadi lebih mencekam, jendela-jendela kayu bak sayap burung yang hendak terbang. Terus mengepak dihembus angin yang entah dari mana datangnya. Aroma bunga kantil pun serasa sengaja ditaburkan ke semua hidung orang yang ada di ruangan itu. Namun, Pak Dharmo menyikapinya benar-benar dingin dan acuh tak acuh.
Beberapa menit kemudian, dukun itu lekas sadarkan diri. Wajahnya mulai bercampur aduk, tanpa spasi dan koma dia langsung meninggalkan rumah Pak Dharmo. Aneh, Pak Dharmo tak sedikit pun merasa bersalah dan ketakutan. Ia justru menertawakan makhluk yang merasuki dukun tadi bersama teman-temannya.
“Setan gebleg! Lah, aku diwedini kaya ngono ya ra bakal wedi. Hahaha (Lah, saya ditakuti kaya begitu ya ga bakal takut).” Tawanya dengan segala kejumawahannya.
Semua orang di rumah itu tertawa terbahak-bahak. Mereka bahkan tak menggubris omongan warga lain. Malah, asyik berpesta ria dengan beberapa minuman keras yang sedari tadi bertengger di meja kaya. Orang gelamor seperti Pak Dharmo memang tidak akan mudah mempercayai tahayul seperti itu walau pun ia melihat dengan mata kakinya.
***
Dua hari setelah kejadian itu, dua puluh persen dari jumlah anak-anak di desa sudah pergi dan tinggal di pelukan bumi. Para warga semakin cemas dan takut. Bahkan sampai ada yang pergi meninggalkan desa. Pak Dharmo? Seperti biasa, dia acuh tak acuh terhadap warganya.
Hingga malam itu telah tiba. Pak Dharmo lari kocar-kacir dengan putus asa. Berteriak meminta pertolongan tetapi tak ada satu pun yang mampu mendengarnya. Suara makhluk itu terus menggema di antara pohon-pohon besar. Burung-burung berterbangan hendak menjauh. Langkah Pak Dharmo terhenti kala melihat sebuah gua besar yang menurutnya tempat teraman untuk bersembunyi. Namun sayang disayang, ia terperangah kala melihat teman sejawatnya dililit dan hendak dilahap oleh seekor ular raksasa.
“Mu ... Muklis!” ucapnya terkaku dengan tubuhnya yang tak berhenti gemetaran.
“Tolong aku, Dharmo!” teriak Jono
“Ah? Ka–kamu juga Jon!”
Pak Dharmo hanya terdiam kaku, tanpa pikir panjang ia justru berlari meninggalkan teman sejawatnya itu. Tega betul, teman pestanya ia tinggalkan dan dibiarkan mati dilahap oleh ular itu. Ia terus berlari mencari tempat berlindung. Wajahnya pucat pasih, guyuran keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya.
Istrinya mencoba untuk membangunkannya, tetapi hal itu sia-sia. Namun, matanya masih menutup dan sesekali mengigau tak karuan. Rupanya dia sedang bermimpi didatangi oleh makhluk buas itu. Dengan sekujur tubuhnya yang dipenuhi oleh keringat dingin, dia masih tak kunjung sadarkan diri juga.
“Tolong! Tolong! Tolong!” Pak Dharmo terus merancau tak karuan.
Dia hanya terus mengucapkan itu dalam tidurnya. Hingga beberapa tokoh adat didatangkan termasuk Ki Agung. Namun, hanya Ki Agung yang menyadarkannya. Dengan segenap ilmu yang ia punya, sebuah daun kelor diletakan di dahi Pak Dharmo. Dia tahu dengan daun itu, dapat menetralisir gangguan gaib apa pun.
“Dharmo, bangun Mo!” bisik Ki Agung di telinga kiri Pak Dharmo.
“Tidaaak ... hah!” Dengan napas yang terengah-engah Pak Dharmo bangun dari mimpi buruknya.
“Sekarang kamu ceritakan apa yang telah terjadi, Mo!” ucap Ki Agung, “Ratmi tolong kamu ambilkan air putih dulu untuk suamimu.”
“Ini Mas. Silakan diminum dulu.” Ucap Ratmi sambil menyodorkan air putih ke mulut Pak Dharmo.
Namun. Pak Dharmo tak mengatakan apa pun kepada semua orang. Walau dipaksa sedemikian rupa, dia enggan mengatakannya dan lebih memilih untuk berbaring di ranjangnya kembali. Orang-orang pun merasa kesal dan beranjak pergi dari rumah Pak Dharmo.
Setelah dua hari dari kejadian itu Muklis dan Jono tewas secara mengenaskan. Jasad kedua ditemukan di ladang milik warga dengan wajah yang membiru dan seperti bekas lilitan. Tak ada satu orang pun yang tahu penyebab kematian mereka berdua. Pak Dharmo yang mengetahui teman sejawatnya tewas mengenaskan itu, badannya menggigil lagi.
“Tinggal tiga hari lagi masamu Dharmo.” Seseorang membisiki Pak Dharmo yang entah dari mana datangnya. Wujudnya pun tak nampak mata. Pak Dharmo terus menengok dan mencarinya ke sana ke mari. Namun, wujud orang yang membisikinya tadi benar-benar tak ada. Dia hanya seorang diri di kamarnya, istrinya pun sedang keluar.
***
“Aduh Gusti, sebentar lagi dia akan datang.” Resah Ki Agung Kusumo, “Ndok, cepet bereskan pakaianmu dan bawa prabotan yang bisa dibawa!”
“Iya Pak.” Ucap Leli dan bergegas menuruti perintah Ki Agung Kusumo.
Suara erangan terdengar keras memenuhi sudut-sudut desa. Semua orang keheranan mendengarnya. Ada juga yang merapihkan pakaian dan beberapa prabotan rumah seadanya. Syamsul lari tungang langgang dari arah pemakaman.
“Dia ... benar-benar datang!” Wajah Syamsul pucat pasih dan dipenuhi oleh keringat dingin.
“Siapa Syul?” tanya seorang warga.
“Bereskan pakaian kalian, lalu cepet lari!” teriak Syamsul sambil meneruskan larinya.
“Hah?! A .. apa itu? Lari!” teriak seorang warga
“Ulah Lanang Segede Sepur!” Semua warga meneriakan makhluk itu.
Sesosok ular besar itu melata dengan cepet dari arah datangnya Syamsul. Benda apa pun setiap dia melewatinya akan dihancurkan tanpa tersisa. Dengan tubuhnya yang sebesar kereta api itu, tentu membuatnya sangat mudah menghancurkan apa pun. Berbondong-bondong warga berlarian menghindari dan menyelamatkan diri dari makhluk itu.
Rumah warga banyak yang hancur tak bersisa. Mayat-mayat warga pun banyak yang bergeletakan di jalan. Rumah segagah apa pun tak akan bisa melindungi mereka dari amukan makhluk ini. Tempat perjudian, pelacuran, dan warung remang-remang hancur berkeping-keping. Semua warga panik dan putus asa. Nyawa mereka sudah berada di ujung tanduk.
Hanya satu tempat yang tidak terjamah oleh ular itu. Tempat itu adalah mushola yang beberapa bulan lalu tak terjamah oleh siapa pun. Ternyata ular itu enggan untuk menghancurkan bangunan ini. Dia pun secepat kilat mengejar lelaki paruh baya yang tak lain adalah Pak Dharmo.
“Tidak, tolong maafkan aku!” rintihnya memelas
“Sstttzt.” Ular itu hanya terus berdesis tak menghiraukan Pak Dharmo yang terus lari ketakutan.
“Dharmo! Cepat sembunyi di sini!” teriak Ki Agung dari dalam mushola
Namun, dia tak bisa mendengar apa yang dikatakan oleh Ki Agung Kusumo. Dia terus berlari mencari pertolongan. Di bawah pohon besar dekat pemakam, dia terjebak dan tak bisa lagi berlari. Kakinya tersandung batu dan tak bisa digerakan lagi. Tubuhnya dililit sampai tak lagi bernapas, lalu ular itu melahapnya dengan cepat. Sayang, semua kekuasan, kedudukan, kekerabatan, dan hartanya tak dapat menyelamatkannya dari ganasnya sang Ular.
Setelah itu, bumi diguyur hujan deras selama tiga hari. Penguasa langit ingin membersihkan sisa-sisa kehancuran di desa tersebut. Warga yang masih selamat, keluar dari mushola untuk memastikan ular itu sudah tak ada lagi. Udara segar datang dari arah barat, menandakan musibah itu telah berlalu. Sejak hari itu, warga tak lagi mendengar dan melihat Pak Dharmo. Istri dan anaknya pun entah ke mana bak ditelan bumi.
Warga kembali membangun desanya. Cerita ini akan terus menjadi sebuah nasihat besar untuk generasinya mendatang. Mereka akhirnya pun sadar bahwa tak ada kekuasaan yang dapat menandingi kehendak-Nya. Keangkuhan dan keserakahan akan membawakan alat penghancur massal yang tak terelakan. Semenjak hari itu juga rumah peribadatan tak pernah sepi.
Oleh : Wawat Qomariyah “Orang boleh pandai setinggi langit tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dari sejar...
Menulis adalah pengikat ilmu, dengannya dunia bisa terlihat secara gamblang. Ilmu pun tak akan pernah pupus sampai semua orang berhenti berkarya dan menulis. Maka menulislah, karena itu adalah hobi para pemikir dan cendikiawan. Pena IAI Bunga Bangsa Cirebon, bersinergi membangun budaya membaca dan menulis. Mari berkontribusi untuk selalu mendukung kegiatan positif ini.
Created with by Pena IAI BBC | Distributed By Blogspot Themes